Thursday, June 10, 2010

Asal Usul Dan Sebutan Indonesia

1.Asal Nama Indonesia
Istilah untuk nama Indonesia terbentuk dari kata indo dan nesia. Istilah indo berasal dari kata Indie, sedangkan nesia berasal dari kata nesos yang berarti kepulauan. Jadi, kata Indonesia berarti Kepulauan Indie, yaitu deretan kepulauan yang berada di antara benua Asia dan Australia. Selanjutnya, siapakah tokoh-tokoh yang menemukan dan memperkenalkan nama tersebut kepada masyarakat dunia?
Istilah Indonesia ditemukan oleh James Richardson Logan, seorang ahli hukum kelahiran Skotlandia pada tahun 1847. Istilah Indonesia kemudian dipergunakan oleh Maxwell dalam bukunya yang berjudul "The Island of Indonesia" pada tahun 1862. Nama Indonesia makin terkenal berkat jasa Prof. Adolf Bastian yang menulis buku "Indonesien Oder die Inselndes Malaychen Archiples" pada tahun 1884.
Pada tahun 1859, Multatuli (E.F.E Douwess Dekker) memakai istilah Insulinde pada bukunya yang berjudul "Max Havelar", yang tidak lain adalah istilah untuk Indonesia. Pada tahun 1913, muncul istilah Indonesische dari kalangan pelajar dan mahasiswa kita di Negri Belanda. Tanggal 28 Oktober 1928 nama Indonesia diikrarkan menjadi nama resmi bangsa yang mendiami wilayah kepulauan dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua). Sejak tanggal 17 Agustus 1945 nama Indonesia resmi menjadi nama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan diahkannya UUD 1945 sebagai undang-undang dasar negara pada 18 Agustus 1945, maka segala sesuatu dalam perikehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai wawasannya diatur menurut dan berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila beserta asas-asasnya.
2.Sebutan Indonesia

  • Pada abad ke-4 Masehi dalam kitab Ramayana, tanah air kita dengan Dvipanta atau Dwipantara yang berasal dari kata dvipa atau dwipa yang berarti pulau-pulau. Serta kata antara tang diartikan wilayah yang berada di antara. Jadi Dvipantara atau Dwipantara diartikan sebagai "kepulauan di antara muara Sungai Gangga dan Samudra Teduh (Samudra Pasifik)."
  • Menurut prasasti Gunung Wilis (1269 M), pada zaman Prabu Kertanegara dari kerajaan Singasari, ditemukan istilah Nusantara yang terbentuk dari kata nusa yang berarti pulau atau kepulauan dan antara. Nusantara berrati Keplauan di antara Pulau Nicobar dan Pulau Bismark yang menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Singasari di Jawa Timur.
  • Dalam buku Negarakertagama (1365 M) ditemukan istilah Nuswantara, yang dimaksudkan pula-pulau Majapahit yang berada diluar yang telah dikuasai dan bersahabat dengan Majapahit. Selanjutnya oleh Mahapatih Gajah Mada, gugusan kepulauan dinamakan Mandala Nuswantara.
  • Menurut Sejarah Melayu dikenal dengan istilah Nusa Tamara yang ternyata sebutan lain Nusantara.
  • Menurut tulisan Camunda (1332 M) ditemukan istilah Sadwipantar, Degantara, Dirgantara yang tidak lain adalah Nusantara.
  • John Crawfurd menamakan Nusantara dengan istilah Indian Archipelago yang diartikan gugusan kepulauan di sebelah timur Sungai Gangga, Selanjutnya istilah itu merupakan sebutan wilayah lautan dengan pulau-pulau di dalamnya, atau disebut benua Kepulauan.
  • Menurut istilah Belanda, Indonesia disebut sebagai Indische Arcipel yang berarti Kepulauan India. Maka wilayah yang dijajah Belanda disebut dengan nama Netherlands Oost Indische Archipel.
  • Multatuli (E.F.E Douwess Dekker) dalam bukunya Max Havelar menyebut Indonesia dengan Insulinde yan terbentuk dari kata Inselnds dan Indie yang artinya pulaupulau Hindia
  • Menurut Peter W. Schmith, kepulauan Indonesia disebut Gugusan Kepulauan Austronesia, yaitu pulau-pulau di selatan yang membentang dari Madagaskas sampai Pulau Paskah.
  • Prof. Dr. ST. Munadjat Danusaputro, SH menyebut Indonesia sebagai Indrajaya karena posisi Indonesia di antara jalan silang transportasi dan komunikasi dunia. Indrajaya merupakan singkatan dari "Indonesia Raya di Antara Jalan Silang Dunia".

Sumber : http://menujuhijau.blogspot.com/#ixzz1JP3FQJwb

Wednesday, June 9, 2010

Perang Jawa (1825-1830)

Perang ini adalah hasil dari kumpulan kekecewaan yang meluas di Jawa Tengah namun merambat ke sebagian besar Jawa Timur dan sedikit Jawa Barat. Artinya jelas, perang tersebut mencakup sebagian besar Jawa, karena itu Belanda menyebut dengan Perang Jawa dan Indonesia mengenalnya dengan Perang Diponegoro karena dipimpin oleh seorang pangeran dari Kesultanan JogJa yaitu Diponegoro (1785-1855), yang bernama asli Ontowiryo anak Sultan Hamengkubuwono III dari selir.
Tempat di mana imperialis Barat mendapat pijakan kuat pertama di Jawa adalah Jayakarta, setelah membakar kota tersebut dan membangun ulang dengan nama Batavia pada 1619. Kota tersebut terletak di antara dua kerajaan yang berhasrat “menelannya” yaitu Banten dan Mataram. Mataram pernah mencoba menyerbu dua kali dan berakhir gagal, Banten sering menyerang aset Barat di daerah pinggiran kota.
Waktu berjalan terus, kuasa Belanda makin kuat dan pesat. Namun pembusukan akibat praktek KKN di tubuh VOC dan perlawanan pribumi berakibat kebangkrutan dan lemah terhadap serbuan luar, yaitu Inggris. Pada 1799 VOC tutup dan segala aset dan hutang diambil alih oleh pemerintah. Suasana Eropa yang gawat akibat Revolusi Perancis juga berdampak ke seluruh jajahan Barat di seberang laut. Belanda seakan terbelah: ada yang pro Perancis dan ada yang anti, adapun keluarga monarki mengungsi ke Inggris. Inggris merasa mendapat mandat merebut jajahan Belanda sekaligus cemas jika wilayah tersebut menjadi pangkalan Perancis, suatu hal yang kelak terbukti. Pasukan Perancis tiba di Jawa untuk memperkuat pulau tersebut dari serbuan pasukan Inggris.

Napoleon memilih tokoh yang dinilai kuat untuk menjaga Jawa yaitu Marsekal Hermann Willem Daendels. Dia tiba di Anyer pada 1808 dan segera bertindak. Untuk mempertahankan Jawa dia memerintahkan kerja rodi membangun jalan raya lintas Jawa dari Anyer ke Panarukan, sekitar 1.000 km. Pembangunan tersebut meminta tumbal besar nyawa warga, hingga kini jalur tersebut masih dipakai. Dia juga membuat beberapa peraturan yang melukai perasaan beberapa elit di Jawa semisal pangeran, bahkan sultan.

Daendels diganti dengan Jenderal Janssen pada 1811, yang hanya berkuasa singkat karena pasukan Inggris menyerbu Jawa. Perioda kekuasaan Inggris di Jawa juga menampilkan Raffles. Secara menyeluruh perioda kekuasaan Inggris di Jawa tidak nyaman bagi pribumi walaupun konon relatif sedikit lebih manusiawi dibanding Belanda. Perkembangan, atau lebih tepat keresahan perioda ini kelak makin mengarah kepada suatu perang berikut di Jawa, yaitu perang yang dinilai sebagai peristiwa penting bagi sejarah Jawa karena beberapa hal:
  1. Perang terbesar di Jawa terakhir pada perioda pra 1945 dengan korban sekitar 200.000 orang termasuk sekitar 15.000 orang yang berdinas militer Belanda serta menguras kas negara Belanda sekitar 20.000.000 gulden.
  2. Peristiwa yang memisahkan dua zaman yaitu zaman “ancient regime” para raja Jawa dengan zaman kolonial Barat yang penuh. Hasil perang tersebut memperjelas kedudukan para raja Jawa sebagai bawahan Barat. Sebelumnya – minimal teoritis – status para raja Jawa selevel dengan kolonial Barat.
  3. Bagi pribumi, perang tersebut merupakan revolusi karena untuk pertama kali terjadi perlawanan dari satu di antara beberapa keraton di Jawa Tengah yang memiliki bobot faktor sosio-religi dan bukan sekadar perselisihan keluarga keraton. Seorang pangeran mampu memiliki kharisma besar terhadap rakyat luas karena mampu “mengelola” kebencian terhadap rezim kolonial, dia seakan membawa semacam harapan baru yaitu kehidupan yang lebih baik berdasar agama atau “membersihkan tanah Jawa” melalui proses perang sabil untuk mengusir kolonial. Boleh dibilang dia sosok “ratu adil” atau “Imam Mahdi” menurut alam fikiran orang Jawa –suku mayoritas di Nusantara. Walaupun Diponegoro dinilai oleh sebagian orang masih jauh dari “potongan” Muslim ideal dalam arti berfaham Islam murni, karena masih terkait dengan faham mistik Jawa, sulit dibantah bahwa dia serius melaksanakan ajaran agama sejauh yang dia tahu dan dia mampu. Dia menilai dirinya sebagai “alat kehendak tuhan” konon berdasar pertemuannya dengan penampakan Nyi Roro Kidul, nama siluman penguasa laut selatan Jawa. Sang ratu konon berkata, “… ini kehendak Tuhan, nasib Jawa telah ditakdirkan. Kamu yang melaksanakan tugas karena tak ada orang lain…”
Dalam korespondensi selama perang, dia memakai gelar “Sultan Ngabdulkamid Erucakra Kabirul Mukmin Sayidin Panatagamaning Jawa Kalifat Rasulullah” dan berulang-ulang menyatakan maksudnya yaitu “membentuk negara berdasar Islam di tanah Jawa”. Tak ada beda tujuannya dengan gerakan Paderi di Minangkabau. Perang ini dimulai dari proyek pembangunan jalan raya oleh pemerintah kolonial melalui tanah milik pangeran tanpa izin, dan berakhir dengan penangkapan pangeran ketika berunding di Magelang. Usai perang, rezim kolonial mencoba mencegah kebangkitan pribumi, terlebih yang berbasis agama. 

Pemerintah segera mengundang para misionaris dan zending untuk menyebar pengaruh Barat lebih giat. Beberapa markas dibangun semisal di Magelang, Salatiga dan Ambarawa. Persis di jantung Jawa! Perbedaan antara Muslim “mutih” dan “abangan” diperbesar untuk memecah belah umat. Umumnya kelompok abangan cenderung kepada Belanda, atau Barat pada umumnya. Sejak dulu mereka menentang corak Indonesia yang Islami, sadar tak sadar mereka menjadi antek imperialis Barat walau di antara mereka aktif melawan rezim kolonial. Namun mereka tidak menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan. Inilah yang turut menyebabkan kelak Revolusi 1945 gagal lepas dari pengaruh Barat dan makin menjauhkan Indonesia dari tujuan kemerdekaan.

Tuesday, June 8, 2010

KORUPSI, KOLUSI dan NEPOTISME

devil
KETIKA gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa bergulir menuntut perbaikan, satu di antara yang menjadi sorotan adalah praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Ada juga yang menambah dengan kroniisme. Penulis cenderung menempatkan kroniisme ke dalam nepotisme karena nepotisme memiliki cakupan yang lebih luas. Nepotisme mungkin dapat didefinisikan dengan bentuk hubungan berdasar rasa keterikatan tertentu yang menjadi dasar utama pemberian dan penerimaan jabatan tertentu. Jenis keterikatan tersebut beragam semisal karena satu daerah, satu suku, satu almamater dan satu keluarga. Kroniisme adalah bentuk nepotisme berdasar rasa keterikatan sebagai kawan.
Kolusi dapat didefinisikan dengan bentuk hubungan berdasar persamaan kepentingan tertentu, antara fihak yang memiliki jabatan publik dengan fihak anggota masyarakat tertentu, yang ingin mendapat keuntungan dengan imbalan membagi hasil keuntungan tersebut kepada yang memiliki jabatan tersebut. Bentuk hubungan ini dapat tercampur dengan motif nepotisme atau juga tidak.
Korupsi dapat didefinisikan dengan bentuk perselingkuhan berdasar pemanfaatan wewenang yang dipercayakan padanya untuk hal-hal yang tak sesuai dengan tujuan pemberian wewenang tersebut.
Sejauh ini penulis belum mengetahui kapan dan siapa-siapa yang pertama kali berbuat hal-hal tersebut di atas. Untuk konteks Indonesia, setahu penulis adalah Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang mempraktekkan tersebut. VOC dibentuk berdasarkan pertimbangan untuk menghilangkan persaingan antara para pedagang Belanda sebagai akibat diketahuinya jalur laut menuju Nusantara, yang merupakan sumber rempah-rempah yang sangat dicari di Eropa. Jalur tersebut dirambah pertama kali oleh Belanda berdasar data-data yang didapat dari kegiatan spionase terhadap Spanyol-Portugis. Untuk waktu yang lama Belanda bermusuhan dengan kedua bangsa tersebut.

Cornelis de Houtman –seorang taruna angkatan laut– mendapat kehormatan memimpin suatu rombongan menempuh jalur yang terbilang sulit tersebut. Dia tiba di pelabuhan Banten pada 1596, yang kelak merupakan peristiwa besar bagi Belanda maupun Indonesia. Kehadiran dia merupakan awal hubungan Belanda-Indonesia. Ketika itu Banten termasuk kerajaan penting di Nusantara, negara tersebut menguasai selat strategis, yaitu Selat Sunda, terlebih lagi setelah para musafir dari berbagai bangsa menghindari Selat Malaka karena penaklukan Kesultanan Malaka oleh Portugis. Banten juga menguasai Lampung, wilayah penghasil rempah-rempah walaupun mungkin tidak semelimpah sebagaimana di Maluku. Namun kelak Banten –sebagai akibat penjajahan asing yang lama– dikenal sebagai daerah terbelakang: penuh kemiskinan dan kebodohan. Padahal Banten termasuk memiliki jasa besar dalam membangun peradaban sekaligus dalam berjuang melawan penjajahan, setidaknya untuk ukuran Indonesia. Dengan segala keterbatasan atau penderitaannya, Banten sanggup menampilkan tokoh-tokoh terbaiknya, umumnya ulama sekaligus pahlawan.

Sejak perjalanan pertama yang dinilai sukses itu, berlomba-lombalah warga Belanda menghimpun dana dan mengirim ekspedisi ke Nusantara –dikenal dengan istilah wilde vaart– muncul persaingan tak sehat karena nafsu besar meraih untung dengan cara apapun. Pemerintah Belanda –dikenal dengan Republik 7 Negeri Belanda Bersatu– mencoba menghimpun mereka ke dalam satu wadah tunggal yaitu VOC dengan hak monopoli, hak yang sesungguhnya hanya berlaku untuk 21 tahun tetapi kemudian dengan licik menjadi berkepanjangan hingga perusahaan tersebut bangkrut. Hak lain yang luar biasa adalah VOC boleh membuat perjanjian, membangun benteng, membentuk tentara dan menyatakan perang. Dengan demikian VOC memiliki posisi bermuka dua, yaitu pedagang dan pemerintah –suatu hak yang kemudian justru mempersulit VOC sendiri. Dengan kehadiran VOC, maka praktis tertutup peluang untuk membentuk perusahaan lain, karena VOC memegang monopoli di Belanda maupun seberang lautan. Dengan mudah VOC hidup tanpa saingan dengan sesama orang Belanda, suara-suara protes dengan relatif mudah dibungkam mengingat orang-orang yang ada di perusahaan memiliki hubungan –semisal keluarga– dengan orang-orang yang ada di pemerintahan. Ini memang kolusi dan nepotisme asli!

Ada pepatah bijak power tends to corrupt (kekuasaan cenderung korup) dan VOC mengamalkannya dengan murni dan konsekuen – meminjam istilah rezim Soeharto. Wewenang luar biasa tersebut membuka lebar berbagai bentuk perselingkuhan: berbohong ke atas berdusta ke bawah. Ketika VOC bangkrut, segala aset dan hutang piutang diambil alih oleh pemerintah. Untuk memulihkan kebangkrutan tersebut dari mana lagi kalau bukan dari Moii Indie –sebutan lain untuk surga tropis Nusantara. Maka dikenallah berbagai praktek eksploitasi ekonomi yang lebih kejam, karena dilaksanakan oleh pemerintah melalui Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan bukan lagi oleh swasta yang nota bene memang bertujuan cari untung, antara lain yang dikenal dengan istilah cultuurstelsel yang pada prakteknya dikenal dengan istilah Indonesia tanam paksa. Para petani dipaksa menanam beberapa jenis tumbuhan bernilai komoditi yang ketika itu laku di Eropa. Mudarat akibat praktek KKN telah disimak dengan cermat oleh orang Belanda, mereka bertekad tidak mengulangi kesalahan melalui VOC. Arus uang dan barang diperiksa seteliti mungkin, jika ada penyimpangan sedikit saja maka si pelaku mendapat hukuman. Sepengetahuan penulis tidak ada surat peringatan pertama, kedua hingga ketiga. Peringatan sudah diberikan ketika mulai diterima masuk kerja.

Ketika bangsa Belanda say goodbye kepada praktek KKN, bangsa Indonesia justru melaksanakannya setelah menyadari bahwa perilaku tersebut dinilai menarik. Tertarik karena bangsa ini memang memiliki “fitrah” selingkuh: mencuri atau berbohong. Agaknya bangsa ini jika ingin sesuatu menempuh cara mencuri, sampai punya bahasapun agaknya dari hasil curian bahasa asing. Betapa banyak istilah-istilah asing yang menghiasi kosakata bahasa Indonesia! Suka tak suka agaknya kita dituntut mengakui hal ini sebagai bagian dari kritik diri bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang dicuri bangsa Indonesia. Kembali ke soal KKN, seiring berjalan waktu, praktek tersebut menjadi budaya, suatu tata nilai yang jauh lebih sulit diubah dibanding dengan kebiasaan, karena telah menjadi aset kolektif, yaitu bangsa, dan bukan oknum. Bagaimana posisi kaum Muslim terkait dengan ini? Tak pelak lagi bahwa umumnya para koruptor adalah kaum Muslim –sebagai konsekuensi atau resiko kaum mayoritas di negeri ini. Dengan “sukses” kaum Muslim sebagai mantan murid VOC mengamalkan KKN. Hampir dari level terbawah hingga teratas adalah maling atau neo-kanibalis. Pesan-pesan dalam kitab dan sunnah yang mengingatkan bahwa jabatan adalah amanat dengan pertanggung jawaban yang mengerikan kelak di akhirat cenderung kurang disimak. Maka coba periksa apa yang tidak dikorup, bahkan bantuan untuk korban bencana pun tidak dilewatkan untuk dikorup. Tak heran begitu banyak yang tidak sampai kepada yang berhak. Jika kita ingat pencuri, kemungkinan besar yang teringat adalah bahwa pelakunya adalah orang miskin. Karena tak punya pilihan lain untuk mengisi perut, dia menempuh langkah itu. Tetapi Indonesia menyajikan suatu keanehan yang parah, para koruptor hampir semua adalah bukan orang miskin: mereka punya jabatan, dapat gaji layak dan disediakan fasilitas, tetapi justru mereka lebih maling dari pada maling!

Seakan belum cukup keanehan itu, dengan uang haram mereka menunaikan ibadah haji atau ‘umrah. Mungkin mereka sanggup berulangkali bolak-balik ke tanah suci dengan uang tersebut. Atau jika mereka tersangkut hukum karena itu, pergi haji atau ‘umrah menjadi dalil yang cukup jitu menghindar dari jerat hukum. Penulis mendapat info dari satu anggota keluarga, yang karena satu dan lain hal harus berurusan dengan aparat. Sang oknum terkesan berusaha mempersulit urusan tersebut yang ternyata –sudah menjadi rahasia umum– dia berusaha mengamalkan “UUD secara murni dan konsekuen”, yang agaknya sesuai dengan apa yang dia terima dalam penataran P4 ala rezim Soeharto. Yaitu tentu saja yang dimaksud bukan Undang Undang Dasar tetapi “Ujung Ujungnya Duit”. Mereka diperas dengan berbagai macam dalih. Salah satu dalihnya adalah karena si oknum aparat tadi perlu uang untuk biaya ‘umrah. Coba renungkan, beribadat dengan uang hasil perbuatan mungkar! Sesuatu hal yang mungkin tidak masuk akal bagi bangsa lain, sekafir apapun ia, tetapi masuk akal bagi bangsa Indonesia. Runtuhnya rezim Soeharto akibat gerakan reformasi sempat menumbuhkan harapan bagi pendamba keadilan di negeri ini, tetapi untuk kesekian kali agaknya harapan harus pupus untuk beberapa lama karena penguasa berikutnya –termasuk ketika dipimpin seorang kiyai– hanyut dengan gaya rezim sebelumnya. Praktek KKN makin menjadi-jadi. Ada lagi pemahaman keliru yang menjangkiti umat, bulan Ramadhan mestinya untuk latihan kendali diri, untuk diterapkan pada 11 bulan lainnya. Istilah muluknya “11 bulan dijadikan Ramadhan” yaitu berarti perilaku shalih selama Ramadhan dipraktekkan pula pada bulan-bulan yang lain. Namun yang difahami (dan dipraktekkan) adalah 11 bulan untuk “suka-suka” –termasuk mencari rezeki haram– dan 1 bulan dalam Ramadhan untuk “bersih-bersih”. Setelah itu selama 11 bulan ke depan kembali semau gue. Tak heran jika bangsa ini sulit mendapat rahmat dan barokah.

Masih terkait dengan harta, zakat yang mestinya diambil dari harta halal untuk “membersihkan” harta dan pemiliknya –karena sekian persen dari harta tersebut merupakan hak orang lain yang dititipkan Allah kepada insan yang mendapatnya– ternyata dipahami secara keliru pula. Tahu bahwa dia meraih rezeki haram dengan cara bathil, dia pakai untuk ibadat sosial semisal zakat, infaq dan shadaqah dengan harapan dosa-dosa dari rezeki haram tersebut berkurang atau hapus sama sekali. Mungkin terfikir, disamping dosa karena korupsi tentu ada pahala karena memberi. Yah, sejelek-jeleknya dapat nilai 50-50. Jika harus masuk neraka, minimal dia sempat menikmati dunia. Untuk memberantas KKN memang tidak mudah karena dari ‘kebiasaan’ menjadi budaya. Budaya adalah jenis perilaku yang lebih sulit karena telah menyebar dalam level nasional. Tetapi perlu ada usaha memberantasnya walaupun perlu perjuangan ekstra keras dalam jangka waktu amat panjang. Misalnya, pertama, dapat dimulai dengan tidak menshalatkan mayat orang yang terkait dengan kasus korupsi. Langsung saja mayatnya dimasukkan ke kubur! Kedua, berbagai organisasi sosial hendaknya memiliki nyali untuk menolak sumbangan dari orang yang terkait dengan kasus KKN, hingga kasus tersebut jelas dengan hasil dia dinyatakan tidak bersalah. 

Ketiga, mengumumkan nama-nama yang terkait kasus tersebut –semisal di tempat-tempat umum– dapat dijadikan upaya lain memberantas kasus korupsi. Tanpa bermaksud mengabaikan asas “praduga tak bersalah”, sosialisasikan nama-nama tersebut dengan judul atau keterangan “para tersangka” atau “nama-nama bermasalah”. Istilah tersangka atau bermasalah mengandung pengakuan bahwa nama-nama tersebut belum tentu bersalah. Namanya juga tersangka, mungkin ya mungkin tidak bersalah. Namun hal tersebut dapat menjadi peringatan awal bagi warga untuk memberi sanksi sosial semisal menjaga jarak atau tidak memberi jabatan apapun hingga mereka terbukti secara hukum tidak bersalah. Dengan demikian diharapkan para tersangka tersebut tergerak untuk berusaha menjernihkan kasusnya karena merasa “gerah” dengan sanksi sosial tersebut jika didiamkan saja. Para tersangka tersebut hendaknya juga mencakup para hamba hukum, sudah menjadi rahasia umum pula bahwa antara hamba hukum dengan tersangka terjadi kolusi. Begitu muncul SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyelidikan), segera usut sebab-sebabnya. Seseorang yang sejak mencalonkan atau dicalonkan menempati jabatan tertentu perlu diperiksa hartanya dan diumumkan. Begitu pula ketika dia selesai masa jabatannya. Dari situ dapat diperbandingkan berapa hartanya ketika mulai mencalonkan/dicalonkan dengan jumlah harta saat dia berhenti.http://pisbon.blogspot.com/2010/06/korupsi-kolusi-dan-nepotisme.html

Saturday, June 5, 2010

Gunung Berapi Bakal Lenyapkan Sepertiga AS

Gunung berapi bakal lenyapkan sepertiga AS. Gunung berapi raksasa di Taman Nasional Yellowstone mengalami peningkatan aktivitas drastis sejak 2004. Jika meletus, dua pertiga AS akan dipenuhi udara beracun.

Jika memuntahkan lahar jauh ke langit, awan abu bisa membunuh tanaman dan memenuhi udara setinggi lebih dari tiga ribu km dengan luas sekitar 1.500 km persegi. Fenomena mematikan ini juga bisa mengganggu ribuan penerbangan dan memaksa jutaan penduduk untuk meninggalkan rumah mereka.
Bagi ilmuwan, peristiwa itu menjadi mimpi buruk karena ilmuwan memprediksi apa yang terjadi bila gunung api terbesar di dunia ini meletus untuk pertama kali dalam kurun 600.000 tahun. Kaldera Taman Nasional Yellowstone sudah meletus tiga kali sejak 2,1 juta tahun lalu. Ilmuwan saat ini masih mengawasi apakah akan muncul erupsi baru yang lebih besar.
Gunung Api di bawah taman Wyoming ini mengalami peningkatan aktivitas drastis sejak 2004. Permukaan gunung sudah naik lebih dari tujuh cm per tahun selama tiga tahun terakhir. Ini merupakan pencapaian tercepat sejak pencatatan dimulai pada 1923. “Ini merupakan pengangkatan yang sangat luar biasa karena mencakup area besar dengan persentase bahaya sangat tinggi,” ujar vulkanologi Yellowstone, Bob Smith dari University of Utah.
Menurut ilmuwan, ruang magma di kerak bumi sudah terisi batuan cair. “Tapi kami tidak tahu berapa lama proses ini berlangsung sebelum letusan atau aliran berhenti dan kaldera berguncang lagi,” ujar Smith lagi.
Ilmuwan masih mengawasi gunung api di kawasan Amerika Utara terkait penyimpanan magma yang menyebabkan pembengkakan sekitar enam kilometer di bawah tanah. Namun, karena kondisi ekstrem ini terjadi di bawah tanah, peneliti tidak bisa mengetahui pergolakan yang terjadi secara spesifik.
"Ada begitu banyak panah yang keluar dari Yellowstone sekarang. Jika ini terkait dengan penyimpanan magma, seluruh sistem akan berubah sejak zaman es,” ujar ahli BMKG AS (U.S Geological Survey/USGS) Dan Dzurisin di Cascades Volcano Observatory, Washington.

Wednesday, June 2, 2010

Jenglot Jadi Hiburan Warga Tulungagung

TULUNGAGUNG - Warga Desa Joho, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, digegerkan penemuan ular berkepala mirip manusia.
Sayangnya, mahluk aneh ini dalam keadaan mati, mengering tersimpan dalam kaca kedap udara. Sehingga tidak bisa dipastikan apakah kepala yang menyerupai manusia itu asli atau hanya rekayasa belaka.
Saat ditemui di rumahnya, Suyono (53) selaku pewaris mengaku tak pernah tahu secara pasti asal usul ular piton berkepala mirip kepala manusia, lengkap dengan rambut terurai warna putih serta dua tangan itu. Yang bisa disampaikannya kepada orang lain, makhluk unik yang menyerupai “jenglot” itu didapat dari Mbah Tohir, salah seorang paranormal Desa Joho yang kini sudah tiada.
Suyono adalah warga Desa Joho. Meski tinggal di Joho, ular aneh berkepala manusia itu awalnya dititipkanya di rumah Wiji (55), kakaknya yang bertempat tinggal di Jalan Ki Mangunsarkoro, Desa Beji, Kecamatan Boyolangu. Namun, belakangan ular itu dibawanya ke rumah.
Mengamati sisiknya yang berwarna kuning tua kehitam-hitaman, binatang melata ini berjenis puspo kajang atau bahasa zoologinya sebangsa piton. Panjang ular yang dalam dunia fauna dikenal ganas ini, bila diurai sekira setengah meter. Sedangkan diameternya sekitar 15 cm.
Secara dominasi fisik, hewan yang memiliki lidah bercabang ini memang ular. Namun, pada bagian kepalanya terlihat sangat aneh. Sebuah kepala dengan raut muka kakek-kakek tua yang keriput, lengkap dengan dua mata hidung dan mulut.
Di atas kepala itu tumbuh rambut beruban dan memanjang sebahu. Sosok manusia itu diperkuat dengan sepasang tangan lengkap dengan sepuluh jari serta kuku yang panjang mirip sebuah cakar.
Sayangnya ular ini sudah mati, kaku tak bergerak. Sehingga pertanyaan yang muncul, apakah kepala mirip manusia itu memang bagian organ tubuh yang asli asli atau hanya akal-akalan untuk menarik perhatian orang lain? (Solichan Arif/Sindo/jri)
    


Sumber : www.lupa.com

Tuesday, June 1, 2010

Setting Dial-up Modem GSM dan CDMA

Pada saat ini hampir semua operator telephone selular di Indonesia menyediakan layanan koneksi internet baik itu GSM atau CDMA, selain di wap browser (standarbrowser untuk handphone), tentu juga bisa di komputer. Untuk di komputer harus dibuatkan settingdialup connection terlebih dahulu, dengan parameter disesuaikan operator selular yang kita pakai.


Berikut adalah settingnya untuk tiap-tiap operator
1. Telkomsel Flash – Halo/Simpati/As (Waktu)
Dial Up Number : *99***1#
User Name :
Password :
Access Point : FLASH
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,”flash”
2. Telkomsel GPRS – Halo/Simpati/As (Data)
Dial Up Number : *99***1#
User Name : wap
Password : wap123
Access Point : TELKOMSEL
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,”internet”
3. Indosat – Matrix – (Data)
Dial Up Number : *99***1#
User Name :
Password :
Access Point : www.satelindogprs.com
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,” www.satelindogprs.com”
4. Indosat – Mentari – (Data)
Dial Up Number : *99***1#
User Name : indosat
Password : indosat
Access Point : www.satelindogprs.com
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,” www.satelindogprs.com”
5. Indosat – IM3 – (Data)
Dial Up Number : *99***1#
User Name : gprs
Password : im3
Access Point : www.indosat-m3.net
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,” www.indosat-m3.net”
6. Indosat – IM3 – (Waktu)
Dial Up Number : *99***1#
User Name : indosat@durasi
Password : indosat@durasi
Access Point : www.indosat-m3.net
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,” www.indosat-m3.net”
7. XL – Xplor/Bebas/Jempol (Data)
Dial Up Number : *99***1#
User Name : xlgprs
Password : proxl
Access Point : www.xlgprs.net
Extra Setting : at+cgdcont=1,”IP”,” www.xlgprs.net”
8. Telkom Flexi – Classy/Trendy (Data)
Dial Up Number : #777
User Name : telkomnet@flexi
Password : telkom
Access Point :
Extra Setting : at+crm=1
9. Telkom Flexi – Classy/Trendy (Waktu)
Dial Up Number : 080989999
User Name : telkomnet@instan
Password : telkom
Access Point :
Extra Setting : at+crm=0
10. Mobile 8 – Fren
Dial Up Number : #777
User Name : m8
Password : m8
Access Point :
Extra Setting :
11. Starone
Dial Up Number : #777
User Name : starone
Password : indosat
Access Point :
Extra Setting :
12. Esia (Waktu)
Dial Up Number : #777
User Name : esia
Password : esia
Access Point :
Extra Setting :
13. Three (( 3 ))
Dial Up Number : *99***1#
User Name : 3data
Password : 3data
Access Point : 3data
Extra Setting :